|
2 Meter dari Rel |
|
|
|
Ditulis oleh admin
|
|
Selasa, 08 September 2009 15:10 |
|
Maaf, terjemahan tidak tersedia.

Bu Sunami dan warungnya. Ketika kereta lewat suaranya memekakkan telinga. Kalau suatu ketika anda melewati rel kereta api yang melintas di Porong, pada saat berada persis di sebelah barat tanggul lumpur Lapindo, hampir dapat dipastikan bahwa anda akan melihat ke arah timur, ke arah tanggul lumpur Lapindo yang berdiri di sana dengan tinggi sekira 8 m. Mungkin sangat jarang orang yang melihat ke arah barat rel. Terutama kalau anda tidak terlalu sering melewati jalur itu. Padahal, hanya beberapa meter di sebelah barat rel kereta, pada tanah celah sempit dan berdebu antara rel kereta dengan jalan raya Porong, terdapat beberapa pedagang makanan kecil yang membuka lapak di sana. Salah satunya adalah Bu Sunami. Dia adalah anggota kelompok 2. |
|
Selanjutnya...
|
|
Ia yang Kehilangan Santrinya |
|
|
|
Ditulis oleh admin
|
|
Sabtu, 15 Agustus 2009 11:08 |
|
Namanya Kiyai Abdul Fatah. Dia pemilik Pondok Pesantren Attahdzib di Desa Kedungbendo yang sudah tenggelam oleh bencana aliran lumpur panas Lapindo. Sebelum bencana, Pondok Attahdzib begitu semarak, ada tiga gedung utama, sekitar 300 santri, dan 12 tenaga pengajar. Pada waktu itu santri-santri berdatangan dari seluruh penjuru Indonesia, mulai dari Blitar, Cilacap, hingga yang jauh dari Pulau Sumatra. Setiap malam Rabu ada sekira 500 jamaah yang berdatangan dari berbagai tempat untuk mengikuti pengajian. |
|
Selanjutnya...
|
|
|
|
|